Aku mencari suami bukan pacar
Mungkin diumur kami yang bisa
dibilang hampir matang ini sudah bukan waktunya lagi untuk memikirkan sesuatu
yang bersifat tidak penting dan terkesan main-main. Diumur yang hampir matang
ini pun sudah waktunya untuk memikirkan sesuatu yang menjurus kearah yang lebih
serius.
Pacar misalnya. Bukan. Maksud
saya pendamping hidup. Saya nggak akan membahas zaman atau generasi orang lain.
Disini saya akan bahas tentang generasi saya sendiri. Ya, generasi 90 an.
Generasi milenia lebih tepatnya. Dimana kami terbiasa dengan layar 5 inch di
genggaman kami kapan pun dan dimanapun kami berada.
Disaat saya duduk dikelas 3 SD
disitu saya belum mengenal apa yang namanya suka sama orang apalagi pacaran.
Namun mirisnya saya sudah mengenal hal tersebut disaat saya duduk dikelas 5 SD.
Disitu saya sudah mulai mengerti bagaimana rasanya suka dengan seorang pria.
Sudah merasakan senang saat bertemu dengan seseorang yang saya suka. Menginjak
kelas 2 SMP saat pertama kali saya menjalani sebuah hubungan yang biasa disebut
pacaran, saya merasa risih karena harus membalas semua SMS yang dia kirim dan
harus sadar kalau ada orang lain selain orang tua kita yang menanti kabar dari
kita.
Namun semua itu berbeda saat saya
sudah menginjak kelas 2 SMA. Dimana perasaan risih akan perhatian yang diberi
oleh orang terkasih kepada kita berubah menjadi perasaan akan hausnya perhatian
dan kasih sayang dari orang-orang tertentu. Tentunya bukan hanya saya yang
mengalami hal seperti ini. Banyak juga remaja seumuran saya yang merasakan hal
yang sama. Ketika mereka sudah mengenal cinta terlalu dalam, disitulah mereka
akan merasa ketagihan. Seakan mereka tidak bisa berhenti untuk ingin selalu
memiliki suatu status/hubungan agar selalu ada orang yang memberi mereka
perhatian lebih dari yang lain. Berganti-ganti pacar sudah biasa bagi sebagian
orang entah itu karena mereka terlalu mudah bosan atau memang sedang mencari
sebuah makna dari kesempurnaan. Bahkan diumur yang hampir matang ini pun masih
banyak orang yang melakukan hal tersebut.
Namun ada juga orang yang sudah
sadar dengan umurnya yang hampir matang sehingga makna dari sebuah kesempurnaan
bukan lagi tujuan utama dari pencariaannya, melainkan makna dari sebuah
kesetiaan. Mereka tidak ingin terburu-buru dalam menentukan pilihan. Segala
pilihan. Terutama mengenai pasangan hidup.
Justru semakin bertambah dewasa
seseorang, semakin takut mereka untuk menentukan sebuah pilihan. Tentu. Karena
kami bukan anak kecil lagi. Yang hanya bisa menentukan segalanya tanpa berpikir
apa konsekuensi kedepannya.
Disaat SMA yang pasti banyak kita
jumpai adalah tangisan dan kesenangan sesaat disaat sedang menjalani sebuah
hubungan. Waktu yang rawan akan gampang terpengaruh dengan gaya hidup yang ada.
Kita belum mengerti bagaimana rasanya “Hay aku akan menikah bulan depan. Jangan
lupa datang ke pesta pernikahanku ya”. Kita belum bisa merasakan hal seperti
itu.
Bahkan disaat memasuki bangku
perkuliahan menginjak semester 3 pun saya belum bisa mengerti betul bagaimana
rasanya hal tersebut. Namun satu hal pasti yang saya rasakan saat ini adalah
“Saya beranjak dewasa dan bukan waktunya untuk bermain-main”. Begitu halnya
mengenai pasangan hidup yang sudah pasti akan lebih sensitif saat membahasnya.
Banyak hal yang bisa kita jadikan
untuk pelajaran hidup disaat Dia mendekatkan kita dengan seseorang.
“Jika dia memang untuk kita, maka
percayalah itu lah yang terbaik untuk kita.
Jika dia memang bukan untuk kita,
maka percayalah Dia akan memberikan yang lebih baik dari dia.”
Komentar
Posting Komentar